Blog - Topic - Detail
 
View All   |   Photo Tips   |   Photo Series   |   Photo Contest   |   Article   |   Opinion   |   Topic
 
07 Feb  
Foto Yang Baik Itu Bagaimana?
2014  
 

Salah satu pertanyaan yang sering dilontarkan oleh mereka yang baru menggeluti fotografi yaitu tentang "bagaimana foto yang baik?". Mereka yang ditanya sering bingung menjawab, sedang yang bertanya juga sering tidak tuntas menemukan jawaban. Kebingungan akan semakin bertambah jika perkara menilai foto kemudian dikaitkan dengan subjektifitas penilai.

Semua orang mempunyai hak berpendapat tentang foto yang dianggapnya baik, tapi apakah semua foto baik? kita pasti sepakat bahwa jawabannya tentu tidak. Kalau begitu harus ada patokan untuk menilai foto yang baik. Apa patokannya? menurut saya, patokannya adalah sisi objektif foto. Karena menilai foto tidak melulu masalah subjektifitas, banyak hal objektif yang sering terabaikan jika hanya mengedepankan ego ketika menilai. Kali ini saya coba berbagi pendapat tentang nilai objektif foto dan menjawab tentang bagaimana foto yang baik itu.

Standar Sebagai Sisi Objektif

Fotografi sebagai media rekam tidak bisa lepas dari industri tempat dimana foto akan digunakan. Industri yang saya maksud seperti lingkup media massa, agensi foto, advertising, NGO, fotografi komersial, pendidikan/ ilmiah, penerbit, galeri, museum, dan lainnya. Nah, tiap industri dan minat-minat fotografi memiliki patokan penilaian foto yang saya sebut standar, bisa berupa referensi foto, aturan komunitas, aturan lembaga, aturan minat fotografi hingga panduan antara industri dengan pelaku fotografi. Standar sering bukan sesuatu yang  tertulis baku, memang butuh waktu untuk mengetahuinya.

Standar merupakan sisi objektif foto yang oleh sebagian orang dianggap sebagai aturan. Kalau dipakai istilah aturan, kesannya menjadi sesuatu yang harus dijalankan. Sedangkan kalau standar pengertiannya rujukan bagi fotografer sebagai pelaku fotografi dalam menghasilkan karya agar bisa diterima pada tempat tertentu dalam industri. Jadi kalau mau dijalankan atau tidak, itu terserah fotografernya. Kecuali ada peraturan yang mengharuskan standar wajib dilaksanakan maka masalahnya menjadi lain.

Standar bisa menyangkut peralatan, aturan dasar fotografi, teknik memotret, etika bekerja, pendekatan memotret, ruang lingkup kelompok minat, hingga media karya. Agar tergambar, berikut beberapa contoh standar dalam fotografi yang sekali lagi tidak absolut namun banyak dipraktekan:

- Berkenaan dengan peralatan, misalnya penggunaan lensa normal dan makro 1:1 untuk kepentingan ilmiah seperti pada medical photography. Contoh lain, foto stok editorial dan komersial, ada agensi yang mensyaratkan foto minimal harus dibuat dengan kamera 12 MP, dll.
- Berkenaan dengan aturan dasar fotografi, misalnya menerapkan konsep komposisi rule of third, eye level, lighting, golden hours, blue hours, pattern hingga mengenal makna warna.
- Berkenaan dengan teknik memotret, misalnya exposure (under/ over), pemakaian flash, makro, high speed photography, panning, dsb.
- Berkenaan dengan etika bekerja atau proses, misalnya seorang jurnalis foto dituntut membuat foto seobjektif dan seakurat mungkin. Juga terdapat aturan bagi mereka dalam melakukan post procesing, olah digital berlebihan tidak diperkenankan apalagi menghilangkan atau menambahkan elemen-elemen dalam foto. Contoh lain, etika pada pemotretan makro dan wildlife yang dilakukan dengan tidak menyakiti binatang yang menjadi subjek pemotretan, dll.
- Berkenaan dengan pendekatan memotret, misalnya street photography, pemotretan sebisa mungkin dilakukan unpose atau unstage.
- Berkenaan dengan ruang lingkup minat fotografi, misalnya minat wildlife, selain memotret, fotografer juga dituntut memiliki pengetahuan flora, fauna dan lingkungan alam dari subjek yang difoto, dll.
- Berkenaan dengan media karya, misalnya kepentingan cetak fine art, fotografer harus mengenal jenis kertas, bahan kertas, cara mencetak, jenis tinta, keakuratan warna hingga perkiraan usia cetak untuk archival quality.
- dan sebagainya.

Diatas merupakan contoh standar yang mau tidak mau pasti ada. Standar selain sebagai tolak ukur menilai foto, keberadaanya juga bertujuan melindungi industri, fotografer dan konsumen. Fotografer tidak bisa menutup mata bahwa itu ada, sebab untuk masuk ke industri dengan kualifikasi tertentu, fotografer harus mulai dengan mempelajari standarnya. Sebagai contoh, bisakah anda melihat ada standar kualitas dari tempat dan karya fotografer National Geographic dan Magnum misalnya? pasti ada standar komunitas tersebut dalam merekrut fotografer-fotografernya.

Pada proses belajar, standar seorang fotografer akan meningkat dari waktu ke waktu seiring bertambahnya pengetahuan dan keahlian memotret. Henri Cartier Bresson pernah berkata "10.000 foto pertama yang anda buat adalah yang terburuk" mungkin benar adanya, kenapa?, karena untuk mencapai standar tertentu, fotografer membutuhkan waktu dan proses belajar.

Standar Sebagai Awal Menilai Foto

Dengan kenyataan bahwa standar itu ada, maka tahapan awal untuk menentukan foto yang baik yaitu mengenal standar tempat dimana foto akan ditempatkan, kemudian membandingkan standar dengan foto yang dinilai. Pada minat apa foto tersebut masuk, standar apa yang ada, dan menilai sejauh mana foto mendekati standar yang dimaksud.

Sebagai contoh, jika anda penggemar landscape, bisa cari rujukan referensi foto landscape dari fotografer kenamaan yang karyanya telah memperoleh pengakuan, penghargaan, terjual atau dikoleksi. Misalnya penggemar landscape hitam putih, bisa menjadikan foto-foto karya Ansel Adam sebagai rujukan referensi. Mempelajari standar dari foto yang dibuatnya, mempelajari prosesnya dan mengetahui wawasan berpikirnya.

Foto Yang Baik

Setelah mengenal standar sebagai sisi objektif foto sebagai awal menilai foto yang baik, lalu yang dimaksud foto yang baik itu bagaimana? Saya mendefinisikan foto yang baik sebagai foto yang memenuhi standar sesuai bidangnya dengan isi yang mampu mengkomunikasikan tujuan foto dibuat dengan khalayak apresian. Melalui foto, fotografer berkomunikasi dengan apresiannya, bisa klien, masyarakat awam atau target tertentu lainnya.

Saya termasuk orang yang percaya bahwa selalu ada tujuan  fotografer ketika memotret. Apakah hendak menceritakan kesedihan, keindahan, kegembiraan, tragedi, inspirasi, imajinasi, teka-teki, kosong, mimpi, dsb. Untuk menilai foto, kita membandingkan tujuannya dibuat dengan  respon yang muncul dari apresian. Pada foto yang baik, apresian yang menjadi target bisa menerima dan memahami komunikasi yang dilakukan oleh fotografer melalui fotonya.

Sebagai contoh, jika fotografer hendak mengkomunikasikan kesedihan melalui foto tapi respon apresian justru tertawa, maka ada kesenjangan komunikasi yang membuat foto tersebut masih belum berhasil. Jika respon yang diterima tidak sesuai dengan tujuan foto dibuat, kita bisa katakan foto belum dibuat dengan cukup baik.

Terkadang foto bisa saja kekurangan informasi, sehingga pada minat tertentu seperti jurnalistik, foto harus disertai narasi untuk melengkapi cerita. Walau demikian kesenjangan komunikasi tetap bisa terjadi jika fotografer tidak pas membuat fotonya sedari awal atau juga karena faktor apresian yang tidak berada pada level pemahaman dan pengetahuan yang sama. Namun logikanya, jika kembali pada fotografi sebagai bahasa visual yang universal, sedikit kemungkinan terjadi kesalahan komunikasi jika foto dibuat dengan baik. Dalam fotografi adalah tugas fotografer untuk membuat fotonya bisa berbicara sebanyak mungkin "a picture is worth a thousand words".

Standar vs Kreatifitas

Membicarakan standar seolah-olah menjadi belengu bagi kreatifitas fotografer. Namun menurut pendapat saya, pemahaman pada standar justru mendorong kreatifitas menjadi lebih terarah sehingga kemungkinan munculnya inovasi semakin besar.

Untuk kemajuan, seorang fotografer harus terus meningkatkan standarnya, menyesuaikan dengan kebutuhan industri yang meningkat dari waktu ke waktu. Foto yang memenuhi standar di satu tempat belum tentu menjadi cukup baik  pada tempat yang berbeda. Agar kans diterima dimanapun semakin besar, fotografer harus membuat foto dengan standar terbaik dan terus berinovasi.

Pada titik tertinggipun fotografer harus terus mempertanyakan standarnya, melanggar standar dengan pemahaman, kreatif dan melakukan inovasi hingga menjadi pionir. Fotografer hanya diingat dari seberapa banyak karya berbeda yang dihasilkan dari apa yang sudah pernah dibuat orang, untuk berbeda dibutuhkan inovasi.

Diatas sedikit pemahaman saya perihal foto yang baik, mudahan tidak membuat semakin bingung. Jika kawan-kawan punya pendapat berbeda atau tambahan pemikiran, silakan berbagi melalui kolom komentar di bawah. Mudahan bermanfaat. (Andi Sucirta)

 
Like
   17
Share on Tumblr
 
Previous Post : Kacamata Kuda Fotografer Next Post : Sekilas Fotografi Potret
 
Author:
Foto dan tulisan blog ini dibuat oleh Andi Sucirta. Semua materi blog hanya dapat dipakai untuk kepentingan non komersil dengan mencantumkan credit tittle penulis.
 
 
Jika anda senang membacanya, pertimbangkan membagikannya melalui :
Share on Facebook Share on Twitter Email Share on Stumbleupon Share on Reddit Share on Mixx Share on Technorati Share on Digg Share on Delicious Add guest book
 
 
RELATED POST
Kacamata Kuda Fotografer
 
 
COMMENTS
7
Fany
2016-05-16 20:28:12

Terimakasih artikelnya, cukup memuaskan :)

Andi Sucirta said :

Terimakasih telah berkunjung.

 
 
6
Adi Sahlan
2016-01-27 22:43:25

Saya seorang tukang foto keliling, karena masih belajar menggunakan kamera DSLR saya sering mendapat masalah mengenai ketajaman gambar dan kontras warna, mohon sarannya bli.. mksh...

Andi Sucirta said :

Salam Adi, terus berlatih. Ketajaman gambar yang diperoleh bisa dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti cara kita memegang kamera, shutter speed, focusing, hingga kualitas lensa yang kita pergunakan. Tahap awal, pastikan kamera kita pegang dengan kokoh, shutter speed cukup cepat jika memotret handheld, dan focus sudah tepat. Mengenai tips memotret lainnya bisa dicek disini: http://www.andisucirta.com/bali_photography_tips.php?page=2 Mudahan membantu, selamat mencoba.

 
 
5
IB Oka Irawan
2015-10-23 12:32:53

Swastyastu jik.. Setelah tiang baca refrensi jik niki, tiang menyimpulkan bahwa seni itu tidak ada batasan baku. Stiap kreatifitas (seni) manusia dinilai dari seberapa besar ketertarikan halayak ramai terhadap hasil karya seseorang. Kebetulan niki pengalaman seni tiang dibidang Music hampir sama dengan hobi "melukis cahaya" yang baru bisa tiang geluti niki (maklum hobi photography berat dikantong tiang). Setiap manusia pasti perlu peningkatan "ten kenten jik?" Nah sekarang tiang nunas info dimana tiang bisa shere dan belajar "melukis cahaya" niki... Suksma..

Andi Sucirta said :

Salam Gus Oka, terimakasih telah berkunjung. Tiang biasanya kumpul dengan teman-teman di Perhimpunan Fotografer Bali (PFB) untuk sharing dan learning. Coba cek websitenya di www.pfbbali.com atau di FB www.facebook.com/fotograferbali

 
 
4
Dewa Ajus
2015-01-23 20:07:42

Saya suka photography tp special untuk hewan atau animal photography. Bisa kasih tips2 ga biar hasilnya lbih baik dan hal apa saja yg perlu saya perhatikan saat pengambilan poto. Terima kasih n salam jepret

Andi Sucirta said :

Jenis pemotretan dengan subjek hewan, bisa pet (hewan peliharaan), animal (hewan secara umum), dan wild life (hewan liar). Tips umum untuk memotret hewan yaitu kesabaran, riset tentang perilaku hewan yang menjadi subjek, peralatan yang sesuai dan teknik yang tepat.

Misalnya untuk memotret harimau yang sedang mandi di kebun binatang. Yang dilakukan pertama kali yaitu riset, mengamati perilakunya untuk mengetahui waktu kapan harimau tersebut mandi di kolam. Pada waktu yang sudah diperkirakan, kita sabar mengamati dengan peralatan yang sudah siap.

Persiapan peralatan mulai dari memakai lensa tele (karena kita tidak bisa memotret terlalu dekat), siap menyiasati memfokuskan subjek yang berada dibalik jeruji karena kadang sulit fokus, siap dengan shuuter speed yang cukup jika kita ingin membekukan gerakan.

Untuk memperoleh foto yang baik, sering tidak bisa dalam satu kali pemotretan. Semakin sering memotret, semakin besar kemungkinan memperoleh momen-momen yang baik.

Mudahan tips sederhana ini membantu. Selanjutnya coba dicari buku tentang tips-tips memotret hewan termasuk makro fotografi.

 
 
3
Mahaputra Angligan
2014-07-15 02:04:37

Tu Aji, saya angligan Saya sedang mengerjakan Tugas Akhir (skripsi) tentang "Foto Landscape" yang saya ingin tanyakan, buku apakah yang harus saya miliki untuk belajar fotografi landscape ? dan dimana bisa saya peroleh buku tsb. ? Kemudian, adakah standarisasi sebuah foto landscape ? terima kasih

Andi Sucirta said :

Salam Angligan. Untuk topic fotografi landscape, bukunya tergolong paling banyak. Bisa coba browse di google. Memang biasanya paling banyak tentang portfolio fotografernya, seperti buku Retrospective karya Galen Rowell, Ansel Adams 400 Photographs, dll 

 

Untuk teks tentang landscape bisa didapat dari encylopedia fotografi, misalnya dari buku The Focal Encylopdia of Photography. Buku tutorial (teks, teknik dan foto) kadang ada di Periplus, biasanya oleh penulis fotografi dengan mengambil contoh foto dari fotografer2 landscape ternama.

 

Untuk standar di landscape misalnya aturan dalam komposisi, pencahayaan, persfektif, ruang tajam, foreground, background, POI, dll seperti umumnya. Jadi hal yang berkenaan dengan fotografi dasar. Termasuk misalnya hingga cetak foto untuk kepentingan archival di galeri kira-kira harus bagaimana. Tapi selalu diingat, standar niki sebagai patokan untuk kreativitas, jadi tidak harus seperti itu.

 

Trus untuk landscape sekarang tidak hanya representasi realistik dari alam, yang lagi in, landscape contemporary atau yang ekspresif. Mudahan membantu

 
 
2
Riris Ayu Hasthari
2014-06-10 01:02:09

Salam Bli, saya sangat suka dengan fotografi, saya sangat ingin belajar untuk itu. Bukan untuk menjadi fotografer profesional, tapi untuk mengembangkan apa yg menjadi passion saya selama ini. Dalam membidik gambar, saya sangat suka mengabadikan keindahan alam dan ekspresi spontan orang2 di sekitar saya. Tetapi saya kurang mengerti bagaimana dan yang seperti apa foto yg baik, terutama jenis fotografi yg saya gemari. Mohon diberi saran nama fotografer yg memotret jenis fotografi yg sama dengan saya. Agar saya dapat meningkatkan passion saya yg satu ini. Sekian. Terimakasih Bli..

Andi Sucirta said :

Terimakasih telah berkunjung Riris. Ada banyak referensi foto tentang subjek landscape dan people di internet. Selain dari internet, buku dan majalah fotografi juga banyak mengulas teknik maupun portfolio fotografer dengan karya yang baik.

Contoh untuk landscape coba disimak portfolio fotografer www.marcadamus.com dan untuk people dari portfolio fotografer www.stevemccurry.com 

Tiap-tiap fotografer biasanya mempunyai karakter masing-masing, tinggal kita memilah mana yang kita sukai untuk rujukan belajar.

 
 
1
Dian
2014-02-10 00:03:42
Terima kasih bli, tulisan yang mencerahkan :)
Andi Sucirta said :
Terimakasih telah mengapresiasi Dian.
 
 
 
LEAVE A COMMENT
Your e-mail address will not be published. Required fields are marked *
 
Name *
E-mail *
Website
 
Notify me of followup comments via e-mail
 
 
 
 
 
Andi's Blog
 
All about my photography activities, photo tips, opinion and other useful information. Content for the moment only available in Bahasa Indonesia.
 
Latest Blog
» Sekilas Fotografi Potret
» Foto Yang Baik Itu Bagaimana?
» Kacamata Kuda Fotografer
» Sekilas Fotografi Dokumenter
» Against Malaria Photo Essay
 
Photo Tips
» Tips Memotret Dengan Kamera Ponsel
» Tips Memotret Dengan Kamera Saku
» Kiat Membeli Kamera Digital SLR
» Kenali Kamera DSLR, Biar Makin Klop !
» Tips Memotret Anak-Anak
 
Search Photo
 
Search Blog Post
 
Photo Series
» Against Malaria
» Thirst of Entertaiment
» Light of Hope
» Huize - China
» China Blue Fashion
» Pengrupukan Day
» The Chosen Soul
» Balinese Grand Prix
» Cement Ambience
» Nomaden Brick Makers
» The Dragon Land
» Bali Cockfighting
» Happiness in Sadness
» Bloody Offerings
» Wayang Lemah
 
Blog Archive
 
Review Archive
 
 
 

Bali-based freelance photographer specializing in social cultural documentary, travel, and fine art. My works intensively explore about Bali and Indonesia with passion in capturing folklore, culture, human, nature with their unique surroundings.

READ MORE
   
Facebook2 Facebook
Twitter2 Twitter
Linkedin Linkedin
RSS Feed RSS Feed
   
Flickr Flickr
© 2008 - 2017 Andi Sucirta. All rights reserved. Best view 1024x768, IE 5.5, Safari and above.